DI BALIK KASIH KOLEKSI KAKTUS
Kring...kring...
suara klakson sepeda kak Dio terdengar dari kamarku.Aku langsung melonjak dari
kasur empukku, “Ya ampun aku lupa kalau kak Dio mengajakku bersepeda Minggu ini”
desisku. Belum mandi, belum dandan, belum makan, langsung keluar dan berpamitan
ke ibuku.
“Aduh
kak, maaf ya nunggu lama, aku lupa, hehe”
“oh,
nggak papa kok, lagian tadi aku juga masih ngobrol sama ibumu sambil minum teh
anget, haha” balas kak Dio.
Aku
pun langsung ke garasi mengambil sepeda ku.
“Ayo
kak, mulai!!!” candaku
“Oke,
ayo!!!” tegas kak Dio
Pagi
itu segar sekali, ditemani tetesan embun dari dedaunan pohon yang berada di
pinggir jalan tempatku bersepeda. Tapi saking segarnya aku terasa dingin
sekali, tiba-tiba aku menggigil, bibirku membiru dan akhirnya bruk, sepedaku
ambruk menimpaku.
“Dek...
dek.... bangun, ayo bangun” suara kak Dio membangunkanku.
Perlahan ku buka
mataku, tetapi rasanya gelap sekali. Ku coba membuka lagi, dan yang ku lihat
kak Dio, ibu, dan ayahku. Aku masih bingung apa yang terjadi denganku tadi.
Ayah dan ibu mencium keningku, dan mereka langsung keluar dari kamarku. Tapi
kak Dio tetap ada di kamarku, dia mulai bercerita.
“Tadi
kamu jatuh dari sepeda, badan kamu dingin sekali Ta”.
“Beneran
kak?”
“Bener
lah, ngapain juga aku bohongin kamu. Aku tadi bingung banget, daripada pusing
aku gendong deh kamu, berat banget ya kamu”.
“Siapa
juga yang nyuruh gendong Tata? Kenapa nggak telepon ayahku biar bawain mobil
buat ngangkut aku yang berat ini? Huh”
“Aku
kan nggak bawa Hp Ta”
“Iya
deh iya, tapi makasih loh ya kak” sambil ku berikan senyum manisku ke kak Dio.
“Nah
sama-sama, gitu dong, kan enak dengernya, hehe. Oh ya udah siang nih, aku
pulang dulu ya mau kerja kelompok ke rumah Amel”
“Iya
kak, hati-hati ya. Oh ya nanti pulangnya belikan aku kaktus di toko langgananku
ya? Katanya sih ada koleksi baru, plis belikan ya?”
“Iya
adek Tata, dah....”
“Dah...
Makasih kakak”
Kak Dio adalah kakak
kelas SMA ku. Aku dan kak Dio sudah seperti kakak beradik. Waktu ayahnya meninggal,
orangtuaku yang membiayai semua kebutuhan sekolahnya. Mungkin karena bantuan
orangtuaku, ia membalasnya dengan kasih sayangnya kepadaku.
Malam
itu dingin sekali, aku pergi ke taman rumahku sambil melihat kemerlap bintang
diatas.
“Hei”,
kaget kak Dio sambil menepuk pundakku.
“Ah
kakak ini selalu saja mengagetkanku”
“Nih
kaktusmu, aku tadi beli dua, ini koleksi terbaru disana”
“Wah
bagus sekali kak, makasih ya?”
“okelah”
Dari
kecil aku memang suka mengoleksi kaktus, selain untuk tanaman hias, bentuknya
yang mungil dan perawatannya yang mudah yang membuatku suka sekali mengoleksinya.
“Kak..kak...
lihat ada bintang yang terang banget”
“Iya,
itu namanya bintang sirius, sinarnya paling terang daripada bintang yang lain”
Aku
dan kak Dio memang sering bercanda di taman sambil menikmati keindahan malam.
“Oh
ya Ta, minggu depan aku ada pengumuman kelulusan. Do’ain aku ya biar nilaiku
bagus dan keterima di perguruan tinggi negeri?”
“Iya
kak, pasti deh aku do’ain. Kesuksesan kakak juga kebahagiaanku, hehe” rayuku
“Ah
kamu, pasti ada maunya”
“Haha
kakak ini, tau aja”
“Udah
malem, yuk masuk ke dalam, besok kan juga sekolah”
“Iya”
“Oh
ya, aku juga pamit pulang dulu ya?”
“Iya,
hati-hati kak”
Seminggu
sudah terlewatkan, pagi itu aku pergi ke sekolah. Ketika berjalan menuju kelas,
aku terhenti di depan mading sekolah “DIO FARIZAKARIA”. Nama kak Dio terpampang
tepat di atas sendiri, artinya dia lulus dari ujian dan mendapat juara 1. Oh
terkejutnya aku. Kakakku ini memang anak yang berprestasi, untuk itu kedua
orangtuaku tak rugi membiayainya karena kepandaiannya.
Cepat
tanggap, aku langsung berlari menuju kelasku dan bertemu teman-temanku untuk
menceritakan kejadian istimewa ini kepada mereka semua.
Teng...teng...bel
pulang pun berbunyi. Aku segera mengambil motorku dan tancap gas untuk segera
pulang dan mengatakan kabar tentang Kak Dio kepada kedua orangtuaku.
“Assalamu’alaikum.
Ibu... Tata pulang” salamku ke ibuku tersayang
“Wa’alaikumsalam,
iya nak”jawab ibuku
“Bu,
ayah masih kerja ya?”
“Iya,
kenapa? Tumben nyari ayah?”
“Bu,
Tata punya kabar istimewa nih. Kak Dio lulus dan mendapat juara 1 bu”
“Alhamdulillah,
wah memang cerdas ya nak Dio itu, Kmu contoh donk cara belajarnya kakakmu itu”
“Iya
iya bu. Aku kan juga selalu berusaha, lagian kak Dio kan juga bisa mengajari
aku”
“Ya
jangan gantung sama dia, dia kan juga mau kuliah nak”
“Oh
iya bu, aduh gimana ni aku bu” Aku mulai panik
“Sudahlah,
makanya kalau belajar yang rajin”
Aku baru ingat, kak Dio kan juga harus melanjutkan
kuliahnya, hatiku mulai mengusik.
Aku akan kehilangan kak Dio
Siapa yang akan memperhatikan aku?
Siapa yang membantuku belajar?
Apakah kak Dio juga merasakan hal
ini?
Aku mulai cemas, aku
mulai panik, aku mulai bingung, aku sedih sekali, aku akan benar-benar
kehilangan kak Dio.
Setelah mandi, aku
mendengar suara gemerisik di ruang tamu. Setelah memakai baju dan berdandan,
aku mengintip di sela-sela almari. Ternyata tamunya kak Dio, aku pun langsung
ikut serta mengobrol.
“Kak Dio kok nggak ke
kamarku sih tadi?”
“Aku kesini mau nyari
ayahmu Ta, tapi dia belum pulang ya Ta?”
“Iya kak, katanya sih
keluar kota”
“Wah... padahal aku mau
berterima kasih dan mau pamitan”
“Memangnya mau kemana
loh kak?”
“Ya mau persiapan buat
ke Bandung besok”
“Tujuannya?”
“Ke ITB Ta”
Aku pun tiba-tiba
terdiam, aku merasa sedih sekali seakan-akan hatiku ini seperti tergores
tajamnya pisau. Aku tak mau ditinggal kak Dio, tapi mau bagaimana lagi itu kan
memang tujuannya sekolah, bisa melanjutkan kuliah dan menggapai cita-citanya.
Setetes air mata jatuh, dan air mata yang lain mengiringinya membasahi pipiku,
sampai-sampai tangisanku ini diiringi dengan nada yang tersedak-sedak. Aku
mencoba menghentikannya, aku coba menolaknya, tapi apa daya tetap saja aku taj
bisa memberhentikan guyuran air mataku.
“Ta...Ta...kenapa?kok
malah nangis sih?
“Nggak papa kak”
“Ah jangan bohong,
kenapa? Aku salah ya?”
“Kak, kak Dio kan mau
ni...ni....ninggalin aku, ya aku sedih lah”
“Sudahlah, kan Cuma
sebentar, aku pasti akan sering pulang. Oh iya tadi waktu pulang sekolah, aku
mampir ke toko langganganmu, tadi ada koleksi kaktus baru loh.”
“Terus?”
“Nah... ini buat kamu”
Kubuka bungkusan kado
yang terbungkus rapi, terbungkus kertas kado bergambar bunga, cantik sekali.
Krek krek krek,
perlahan ku sobek sedikit demi sedikit kado dari kak Dio.
“Isinya apa sih kak?”
“Lihat saja sendiri”
Setelah membuka
kertasnya, sekarang giliran membuka kotak kardunya.
“Yah..... hanya kaktus
ya kak?”
“Kenapa? Biasanya kan
kamu suka sekali, lihat dulu donk notenya”
Aku mulai membacanya.
TATA
Kasih
sayangku bagaikan kaktus, yang selalu bertahan dalam kekeringan
Durinya,
mampu melindungi dari keganasan
Hijau
warnanya, bagaikan cintaku yang selalu subur
Tapi,
aku tak mau seperti kaktus dalam air
Dapat lenyap, tak kuat, pasti mati
Sayang dan cintaku tak pernah mati
HANYA UNTUKMU...
“Apa ini maksudnya
kak?”
“Aku tuh nggak hanya
nganggep kamu sebagai adik saja, aku suka sama kamu Ta. Aku sedih sekali ketika
aku lulus, ketika aku akan pergi ke Bandung, dan ketika aku akan
meninggalkanmu”
Aku
tak bisa membalas perkataan kak Dio, aku kembali termangu, ternyata kak Dio
juga mempunyai perasaan yang sama sepertia aku. Perasaanku selama ini itu adalah
sayang, cinta, kak Dio juga. “Ya Tuhan, aku selama ini memendam perasaan
terbesarku ini. Bukan hanya kakak tersayang, melainkan seseorang yang sangat
berarti dalam hidupku” desis hatiku. Aku terbangun dari angan dan lamunanku,
langsung ku lihat kaktus cantik berian kak Dio, ku lipat kembali notenya.
“Bentar
ya kak, aku mau naruh kaktus ini di depan”
“Ta”
sambil memegang tanganku saat aku mulai beranjak dari kursi “Jangan pergi dulu,
balas semua kata-kataku”
“Iya
kak” aku pun mulai duduk kembali. “Kak, sebenernya mu...mu...mungkin aku juga
mempunyai perasaan yang sama, tapi aku masih bingung, perasaan sayang kepada
seorang kakak ataukah perasaan sayang kepada seorang yang berari”
“Maka
dari itu aku nggak mau memendam perasaanku ini ketika aku pergi ke Bandung, aku
jujur mulai sekarang”
“Iya
kak, mungkin inilah saatnya aku putuskan, aku juga suka sama kakak sebagai
seorang yang berarti. Aku pergi ya kak naruh ni kaktus”
“Aku
ikut ya? Sekalian kita ke taman”
“Iya,
ayo!”
Di
perjalanan menuju taman, tiba-tiba jari-jari kak Dio terselip di sela-sela
jari-jari tanganku. Dag dig dug lah yang kurasakan, dan mataku tiba-tiba
menatap mata kak Dio yang selagi berbinar-binar.Rasanya sungguh membahagiakan.
Gludak!
Aku dan Kak Dio tersandung ranting kayu, yah itulah balasan jalan tidak melihat
jalan malah saling bertatapan.
“Aduh....”
sakitku
“Haha,
kok lucu ya, jatuhnya bareng-bareng”
“Ah
kakak ini, sakit-sakit malah ketawa”
“Habisnya,
kita kok bisa jatuh segala, gara-gara kamu nih”
“Kok
gara-gara aku sih?”
“Iya,
habisnya matamu itu menyentuh hatiku, hehe”
“Ah
mulai gombal nih ceritanya?”
Aku
pun langsung berdiri walau kaki menahan rasa sakit, segera duduk di bawah pohon
yang berada di taman. Rasa sakit di kaki mulai hilang karena terbawa
sepoi-sepoi angin yang sejuk ditambah terpusatnya melihat ketampanan kak Dio
yang mulai terbuaka.
“Ta,
kok ngelamun sih?”
Aku
masih terbawa pada lamunanku, aku berfikir apabila aku menjalin kasih dengan
kak Dio akankah bisa? Menjalin kasih jarak jauh, tak bisa bertemu setiap
saat.”Ah biarlah, toh pasti kak Dio sering pulang, dia kan pasti juga rindu
dengan ibunya” tolak hati kecilku.
“Ta?
Ngelamun beneran yah?” sambil menepuk pipiku
“Aduh,
sakit kak”
“Habisnya,
ngelamun mulu sih”
“Apa
kakak nggak menyesal suka sama aku?. Di Bandung kan pasti ada cewek yang lebih
cantik dari aku. Apakah kakak juga mau menjalin hubungan jarak jauh denganku?”
“Aku
suka sama kamu bukan karena kecantikanmu, melainkan karena aku merasa ada yang
istimewa dari kamu. Walaupun jarak jauh, kalau ada niat pasti akan terjalani.
Aku janji deh bakalan sering pulang”
“Iya
deh, percaya. Oh ya kak, kakak mau bantuin aku?”
“Mau
aja, tapi... bantuin apa ya?
“Nyiramin
kaktusku, hehehe”
“Wah,
ayo kita mulai!”
Keesokan
harinya, pagi-pagi buta setelah sholat subuh, kak Dio sudah ada di rumahku. Aku
masih bingung ngapain dia pagi-pagi udah kesini.
“Ngapain
kak?” tanyaku
“Aku
mau pamit nih”
“Yah
kakak, pasti aku bakalan kangen”
“Aku
juga Ta, kangennya karena apa?”
“Nggak
ada yang beliin aku kaktus, nggak ada yang bantuin ngerawat kaktusku, hehe”
“Wah,
kamu itu kaktus melulu, kapan aku ada di pikiranmu?”
“Ya
selamanya pasti ada di pikiranku, hehe”rayuku
“Ah....
kemana ayahmu?”
“Masih
mandi kak”
Lama
menunggu ayahku mandi dan berdandan, aku pun mengajak kak Dio ke meja makan
yang sudah dipersiapkan rapi oleh ibuku. Aku dan kak Dio pun langsung menyantap
makanan istimewa dari ibuku.
“Kak,
ini adalah makan bersama terakhir dengan kak Dio”
“Ah,
jangan membuat suasana jadi syahdu gini donk”
“Hehe, udah ah lanjutin makan aja”
Setelah
bertemu dengan ayah, kak Dio berpamitan. Katanya dia akan pergi ke Bandung naik
kereta api. Tapi kali ini ayah nggak kerja, ayah berniat mengantar kak Dio ke
stasiun kereta api. Aku tak ingin ketinggalan aku pun ikut ayah mengantar kak
Dio.
Tak
lama kemudian, sampailah di stasiun rasa haru akan detik-detik kepergian kak
Dio menghampiriku. Rasanya seperti kehilangan sekali, kehilangan seorang
berharga titipan Tuhan, miris sekali.
Jus
jeng jus jeng, suara kereta api jurusan Bandung pun mulai terdengar oleh
telingaku. Aku mulai menitihkan air mata kesedihan yang sangat luar biasa. Dan
tibalah kereta itu dihadapanku.
“Pak,
saya pergi dulu, terima kasih banyak atas pertolongan besar yang bapak berikan
kepada saya. Itu semua sangat berharga dalam kehidupan saya dan ibu saya,
sekali lagi terima kasih pak” ujar kak Dio kepada ayahku.
“Iya
nak Dio, kita sebagai sesama manusia harus saling tolong menolong”
“Hehe
terima kasih pak. Oh iya Ta, kakak pergi dulu ya? Jaga dirimu baik-baik,
belajar yang rajin, nurut sama orang tua”
“Iya
kakak sayang” aku langsung bergeser ke samping kak Dio sambil memeluknya erat
dan berbisik “Aku sayang kakak”
“Aku
juga sayang kamu” balas bisiknya.
“Iya
kak” sambil mengusap tangisanku.
“Udah,
jangan sedih. Aku akan selalu sayang dan cinta sama kamu bagaikan koleksi
kaktusmu, hehe” candanya.
“Ah
kakak, Kau adalah pangeran kaktusku, haha” balas candaku.
“Iya
putri kaktusku,hehe.Ya udah aku pergi ya?dadah” sambil menaiki tangga kereta.
“Dadah”
Setelah
melihat jalannya kereta api sampai kereta itu tak terlihat lagi, aku pun
kembali pulang bersama ayah. Dalam mobil aku hanya bisa bicara dalam hati “Aku
hanya bisa mendo’akan kak Dio dari sini semoga kak Dio sukses sesuai
cita-citanya, amin. Aku berjanji aku akan menyusul kesuksesan kak Dio, agar
kedua orang tuaku bangga terhadapku”.
Ketika
melewati toko langgananku, aku segera menyuruh ayahku berhenti. Aku segera lari
dan membeli koleksi kaktus terbaru sambil membayangkan “Andai saja kak Dio membeli
kaktus ini bersamaku, betapa senangnya hatiku”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar