Minggu, 11 November 2012

CERPENKU ^^


DI BALIK KASIH KOLEKSI KAKTUS

            Kring...kring... suara klakson sepeda kak Dio terdengar dari kamarku.Aku langsung melonjak dari kasur empukku, “Ya ampun aku lupa kalau kak Dio mengajakku bersepeda Minggu ini” desisku. Belum mandi, belum dandan, belum makan, langsung keluar dan berpamitan ke ibuku.
            “Aduh kak, maaf ya nunggu lama, aku lupa, hehe”
            “oh, nggak papa kok, lagian tadi aku juga masih ngobrol sama ibumu sambil minum teh anget, haha” balas kak Dio.
            Aku pun langsung ke garasi mengambil sepeda ku.
            “Ayo kak, mulai!!!” candaku
            “Oke, ayo!!!” tegas kak Dio
            Pagi itu segar sekali, ditemani tetesan embun dari dedaunan pohon yang berada di pinggir jalan tempatku bersepeda. Tapi saking segarnya aku terasa dingin sekali, tiba-tiba aku menggigil, bibirku membiru dan akhirnya bruk, sepedaku ambruk menimpaku.
            “Dek... dek.... bangun, ayo bangun” suara kak Dio membangunkanku.
Perlahan ku buka mataku, tetapi rasanya gelap sekali. Ku coba membuka lagi, dan yang ku lihat kak Dio, ibu, dan ayahku. Aku masih bingung apa yang terjadi denganku tadi. Ayah dan ibu mencium keningku, dan mereka langsung keluar dari kamarku. Tapi kak Dio tetap ada di kamarku, dia mulai bercerita.
            “Tadi kamu jatuh dari sepeda, badan kamu dingin sekali Ta”.
            “Beneran kak?”
            “Bener lah, ngapain juga aku bohongin kamu. Aku tadi bingung banget, daripada pusing aku gendong deh kamu, berat banget ya kamu”.
            “Siapa juga yang nyuruh gendong Tata? Kenapa nggak telepon ayahku biar bawain mobil buat ngangkut aku yang berat ini? Huh”
            “Aku kan nggak bawa Hp Ta”
            “Iya deh iya, tapi makasih loh ya kak” sambil ku berikan senyum manisku ke kak Dio.
            “Nah sama-sama, gitu dong, kan enak dengernya, hehe. Oh ya udah siang nih, aku pulang dulu ya mau kerja kelompok ke rumah Amel”
            “Iya kak, hati-hati ya. Oh ya nanti pulangnya belikan aku kaktus di toko langgananku ya? Katanya sih ada koleksi baru, plis belikan ya?”
            “Iya adek Tata, dah....”
            “Dah... Makasih kakak”
Kak Dio adalah kakak kelas SMA ku. Aku dan kak Dio sudah seperti kakak beradik. Waktu ayahnya meninggal, orangtuaku yang membiayai semua kebutuhan sekolahnya. Mungkin karena bantuan orangtuaku, ia membalasnya dengan kasih sayangnya kepadaku.
            Malam itu dingin sekali, aku pergi ke taman rumahku sambil melihat kemerlap bintang diatas.
            “Hei”, kaget kak Dio sambil menepuk pundakku.
            “Ah kakak ini selalu saja mengagetkanku”
            “Nih kaktusmu, aku tadi beli dua, ini koleksi terbaru disana”
            “Wah bagus sekali kak, makasih ya?”
            “okelah”
            Dari kecil aku memang suka mengoleksi kaktus, selain untuk tanaman hias, bentuknya yang mungil dan perawatannya yang mudah yang membuatku suka sekali mengoleksinya.
            “Kak..kak... lihat ada bintang yang terang banget”
            “Iya, itu namanya bintang sirius, sinarnya paling terang daripada bintang yang lain”
            Aku dan kak Dio memang sering bercanda di taman sambil menikmati keindahan malam.
            “Oh ya Ta, minggu depan aku ada pengumuman kelulusan. Do’ain aku ya biar nilaiku bagus dan keterima di perguruan tinggi negeri?”
            “Iya kak, pasti deh aku do’ain. Kesuksesan kakak juga kebahagiaanku, hehe” rayuku
            “Ah kamu, pasti ada maunya”
            “Haha kakak ini, tau aja”
            “Udah malem, yuk masuk ke dalam, besok kan juga sekolah”
            “Iya”
            “Oh ya, aku juga pamit pulang dulu ya?”
            “Iya, hati-hati kak”
            Seminggu sudah terlewatkan, pagi itu aku pergi ke sekolah. Ketika berjalan menuju kelas, aku terhenti di depan mading sekolah “DIO FARIZAKARIA”. Nama kak Dio terpampang tepat di atas sendiri, artinya dia lulus dari ujian dan mendapat juara 1. Oh terkejutnya aku. Kakakku ini memang anak yang berprestasi, untuk itu kedua orangtuaku tak rugi membiayainya karena kepandaiannya.
            Cepat tanggap, aku langsung berlari menuju kelasku dan bertemu teman-temanku untuk menceritakan kejadian istimewa ini kepada mereka semua.
            Teng...teng...bel pulang pun berbunyi. Aku segera mengambil motorku dan tancap gas untuk segera pulang dan mengatakan kabar tentang Kak Dio kepada kedua orangtuaku.
            “Assalamu’alaikum. Ibu... Tata pulang” salamku ke ibuku tersayang
            “Wa’alaikumsalam, iya nak”jawab ibuku
            “Bu, ayah masih kerja ya?”
            “Iya, kenapa? Tumben nyari ayah?”
            “Bu, Tata punya kabar istimewa nih. Kak Dio lulus dan mendapat juara 1 bu”
            “Alhamdulillah, wah memang cerdas ya nak Dio itu, Kmu contoh donk cara belajarnya kakakmu itu”
            “Iya iya bu. Aku kan juga selalu berusaha, lagian kak Dio kan juga bisa mengajari aku”
            “Ya jangan gantung sama dia, dia kan juga mau kuliah nak”
            “Oh iya bu, aduh gimana ni aku bu” Aku mulai panik
            “Sudahlah, makanya kalau belajar yang rajin”
Aku baru ingat, kak Dio kan juga harus melanjutkan kuliahnya, hatiku mulai mengusik.
            Aku akan kehilangan kak Dio
            Siapa yang akan memperhatikan aku?
            Siapa yang membantuku belajar?
            Apakah kak Dio juga merasakan hal ini?
Aku mulai cemas, aku mulai panik, aku mulai bingung, aku sedih sekali, aku akan benar-benar kehilangan kak Dio.
Setelah mandi, aku mendengar suara gemerisik di ruang tamu. Setelah memakai baju dan berdandan, aku mengintip di sela-sela almari. Ternyata tamunya kak Dio, aku pun langsung ikut serta mengobrol.
“Kak Dio kok nggak ke kamarku sih tadi?”
“Aku kesini mau nyari ayahmu Ta, tapi dia belum pulang ya Ta?”
“Iya kak, katanya sih keluar kota”
“Wah... padahal aku mau berterima kasih dan mau pamitan”
“Memangnya mau kemana loh kak?”
“Ya mau persiapan buat ke Bandung besok”
“Tujuannya?”
“Ke ITB Ta”
Aku pun tiba-tiba terdiam, aku merasa sedih sekali seakan-akan hatiku ini seperti tergores tajamnya pisau. Aku tak mau ditinggal kak Dio, tapi mau bagaimana lagi itu kan memang tujuannya sekolah, bisa melanjutkan kuliah dan menggapai cita-citanya. Setetes air mata jatuh, dan air mata yang lain mengiringinya membasahi pipiku, sampai-sampai tangisanku ini diiringi dengan nada yang tersedak-sedak. Aku mencoba menghentikannya, aku coba menolaknya, tapi apa daya tetap saja aku taj bisa memberhentikan guyuran air mataku.
“Ta...Ta...kenapa?kok malah nangis sih?
“Nggak papa kak”
“Ah jangan bohong, kenapa? Aku salah ya?”
“Kak, kak Dio kan mau ni...ni....ninggalin aku, ya aku sedih lah”
“Sudahlah, kan Cuma sebentar, aku pasti akan sering pulang. Oh iya tadi waktu pulang sekolah, aku mampir ke toko langganganmu, tadi ada koleksi kaktus baru loh.”
“Terus?”
“Nah... ini buat kamu”
Kubuka bungkusan kado yang terbungkus rapi, terbungkus kertas kado bergambar bunga, cantik sekali.
Krek krek krek, perlahan ku sobek sedikit demi sedikit kado dari kak Dio.
“Isinya apa sih kak?”
“Lihat saja sendiri”
Setelah membuka kertasnya, sekarang giliran membuka kotak kardunya.
“Yah..... hanya kaktus ya kak?”
“Kenapa? Biasanya kan kamu suka sekali, lihat dulu donk notenya”
Aku mulai membacanya.

                                                TATA
Kasih sayangku bagaikan kaktus, yang selalu bertahan dalam kekeringan
Durinya, mampu melindungi dari keganasan
Hijau warnanya, bagaikan cintaku yang selalu subur
            Tapi, aku tak mau seperti kaktus dalam air
            Dapat lenyap, tak kuat, pasti mati
            Sayang dan cintaku tak pernah mati
 HANYA UNTUKMU...
“Apa ini maksudnya kak?”
“Aku tuh nggak hanya nganggep kamu sebagai adik saja, aku suka sama kamu Ta. Aku sedih sekali ketika aku lulus, ketika aku akan pergi ke Bandung, dan ketika aku akan meninggalkanmu”
            Aku tak bisa membalas perkataan kak Dio, aku kembali termangu, ternyata kak Dio juga mempunyai perasaan yang sama sepertia aku. Perasaanku selama ini itu adalah sayang, cinta, kak Dio juga. “Ya Tuhan, aku selama ini memendam perasaan terbesarku ini. Bukan hanya kakak tersayang, melainkan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku” desis hatiku. Aku terbangun dari angan dan lamunanku, langsung ku lihat kaktus cantik berian kak Dio, ku lipat kembali notenya.
            “Bentar ya kak, aku mau naruh kaktus ini di depan”
            “Ta” sambil memegang tanganku saat aku mulai beranjak dari kursi “Jangan pergi dulu, balas semua kata-kataku”
            “Iya kak” aku pun mulai duduk kembali. “Kak, sebenernya mu...mu...mungkin aku juga mempunyai perasaan yang sama, tapi aku masih bingung, perasaan sayang kepada seorang kakak ataukah perasaan sayang kepada seorang yang berari”
            “Maka dari itu aku nggak mau memendam perasaanku ini ketika aku pergi ke Bandung, aku jujur mulai sekarang”
            “Iya kak, mungkin inilah saatnya aku putuskan, aku juga suka sama kakak sebagai seorang yang berarti. Aku pergi ya kak naruh ni kaktus”
            “Aku ikut ya? Sekalian kita ke taman”
            “Iya, ayo!”
            Di perjalanan menuju taman, tiba-tiba jari-jari kak Dio terselip di sela-sela jari-jari tanganku. Dag dig dug lah yang kurasakan, dan mataku tiba-tiba menatap mata kak Dio yang selagi berbinar-binar.Rasanya sungguh membahagiakan.
            Gludak! Aku dan Kak Dio tersandung ranting kayu, yah itulah balasan jalan tidak melihat jalan malah saling bertatapan.
            “Aduh....” sakitku
            “Haha, kok lucu ya, jatuhnya bareng-bareng”
            “Ah kakak ini, sakit-sakit malah ketawa”
            “Habisnya, kita kok bisa jatuh segala, gara-gara kamu nih”
            “Kok gara-gara aku sih?”
            “Iya, habisnya matamu itu menyentuh hatiku, hehe”
            “Ah mulai gombal nih ceritanya?”
            Aku pun langsung berdiri walau kaki menahan rasa sakit, segera duduk di bawah pohon yang berada di taman. Rasa sakit di kaki mulai hilang karena terbawa sepoi-sepoi angin yang sejuk ditambah terpusatnya melihat ketampanan kak Dio yang mulai terbuaka.
            “Ta, kok ngelamun sih?”
            Aku masih terbawa pada lamunanku, aku berfikir apabila aku menjalin kasih dengan kak Dio akankah bisa? Menjalin kasih jarak jauh, tak bisa bertemu setiap saat.”Ah biarlah, toh pasti kak Dio sering pulang, dia kan pasti juga rindu dengan ibunya” tolak hati kecilku.
            “Ta? Ngelamun beneran yah?” sambil menepuk pipiku
            “Aduh, sakit kak”
            “Habisnya, ngelamun mulu sih”
            “Apa kakak nggak menyesal suka sama aku?. Di Bandung kan pasti ada cewek yang lebih cantik dari aku. Apakah kakak juga mau menjalin hubungan jarak jauh denganku?”
            “Aku suka sama kamu bukan karena kecantikanmu, melainkan karena aku merasa ada yang istimewa dari kamu. Walaupun jarak jauh, kalau ada niat pasti akan terjalani. Aku janji deh bakalan sering pulang”
            “Iya deh, percaya. Oh ya kak, kakak mau bantuin aku?”
            “Mau aja, tapi... bantuin apa ya?
            “Nyiramin kaktusku, hehehe”
            “Wah, ayo kita mulai!”
            Keesokan harinya, pagi-pagi buta setelah sholat subuh, kak Dio sudah ada di rumahku. Aku masih bingung ngapain dia pagi-pagi udah kesini.
            “Ngapain kak?” tanyaku
            “Aku mau pamit nih”
            “Yah kakak, pasti aku bakalan kangen”
            “Aku juga Ta, kangennya karena apa?”
            “Nggak ada yang beliin aku kaktus, nggak ada yang bantuin ngerawat kaktusku, hehe”
            “Wah, kamu itu kaktus melulu, kapan aku ada di pikiranmu?”
            “Ya selamanya pasti ada di pikiranku, hehe”rayuku
            “Ah.... kemana ayahmu?”
            “Masih mandi kak”
            Lama menunggu ayahku mandi dan berdandan, aku pun mengajak kak Dio ke meja makan yang sudah dipersiapkan rapi oleh ibuku. Aku dan kak Dio pun langsung menyantap makanan istimewa dari ibuku.
            “Kak, ini adalah makan bersama terakhir dengan kak Dio”
            “Ah, jangan membuat suasana jadi syahdu gini donk”
            “Hehe, udah ah lanjutin makan aja”
            Setelah bertemu dengan ayah, kak Dio berpamitan. Katanya dia akan pergi ke Bandung naik kereta api. Tapi kali ini ayah nggak kerja, ayah berniat mengantar kak Dio ke stasiun kereta api. Aku tak ingin ketinggalan aku pun ikut ayah mengantar kak Dio.
            Tak lama kemudian, sampailah di stasiun rasa haru akan detik-detik kepergian kak Dio menghampiriku. Rasanya seperti kehilangan sekali, kehilangan seorang berharga titipan Tuhan, miris sekali.
            Jus jeng jus jeng, suara kereta api jurusan Bandung pun mulai terdengar oleh telingaku. Aku mulai menitihkan air mata kesedihan yang sangat luar biasa. Dan tibalah kereta itu dihadapanku.
            “Pak, saya pergi dulu, terima kasih banyak atas pertolongan besar yang bapak berikan kepada saya. Itu semua sangat berharga dalam kehidupan saya dan ibu saya, sekali lagi terima kasih pak” ujar kak Dio kepada ayahku.
            “Iya nak Dio, kita sebagai sesama manusia harus saling tolong menolong”
            “Hehe terima kasih pak. Oh iya Ta, kakak pergi dulu ya? Jaga dirimu baik-baik, belajar yang rajin, nurut sama orang tua”
            “Iya kakak sayang” aku langsung bergeser ke samping kak Dio sambil memeluknya erat dan berbisik “Aku sayang kakak”
            “Aku juga sayang kamu” balas bisiknya.
            “Iya kak” sambil mengusap tangisanku.
            “Udah, jangan sedih. Aku akan selalu sayang dan cinta sama kamu bagaikan koleksi kaktusmu, hehe” candanya.
            “Ah kakak, Kau adalah pangeran kaktusku, haha” balas candaku.
            “Iya putri kaktusku,hehe.Ya udah aku pergi ya?dadah” sambil menaiki tangga kereta.
            “Dadah”
            Setelah melihat jalannya kereta api sampai kereta itu tak terlihat lagi, aku pun kembali pulang bersama ayah. Dalam mobil aku hanya bisa bicara dalam hati “Aku hanya bisa mendo’akan kak Dio dari sini semoga kak Dio sukses sesuai cita-citanya, amin. Aku berjanji aku akan menyusul kesuksesan kak Dio, agar kedua orang tuaku bangga terhadapku”.
            Ketika melewati toko langgananku, aku segera menyuruh ayahku berhenti. Aku segera lari dan membeli koleksi kaktus terbaru sambil membayangkan “Andai saja kak Dio membeli kaktus ini bersamaku, betapa senangnya hatiku”.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar